Workshop KKG Bahasa Kecamatan Turen
- account_circle admin tbin
- calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
- visibility 83
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Potensi saya adalah anugerah Allah pada saya. Apa yang saya lakukan dengan potensi ini adalah persembahan saya pada Allah”

Muhammad Masykur Izzy Baiquni. 27 Agustus 2026
Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam Malang

Foto: Bersama para Pengurus KKM dan KKG Bahasa Indonesia se Kecamatan Turen
Kamis (20/08/2026), MIMiftahul Huda Turen lebih cerah daripada biasanya, Sekitar 35 orang pengurus dan angggota Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Indonesia se Kecamatan Turen. Mereka mengadakan dan menghadiri Workshop dengan tema “Speak, inspire, shine : Tehnik pidato dan pildacil dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris”
Tugas dosen dalam Tri Dharma perguruan Tinggi adalah memberikan pengabdian kepada masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Tentunya momen ini sangat menyenangkan karena saya bisa bertemu dengan para guru bahasa Indonesia dan ada beberapa yang memang alumni Al Qolam Malang.

Foto: Pemateri dan Peserta Workshop
Saya mengampu mata kuliah Keterampilan Berbicara atau Publick Speaking di kampus. Workshop seperti ini juga menjadikan saya memahami realitas yang dihadapi oleh guru-guru Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah Kecamatan Turen.
Saya berkenalan dan mengobrol dengan dua pengawas, kepala sekolah, pengurus KKG dan para guru. Faktanya memang belum semua guru pengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia merupakan lulusan bahasa. Ini perlu kita bantu untuk menyelesaikan problem yang mereka temui di saat mengajar.
Saya menyimak, berdiskusi, dan sesekali melihat para guru praktik Publick Speaking. Mereka menyimak apa yang saya sampaikan dan sesekali bertanya atau bercerita tentang permasalahan yang dihadapi saat melatih siswa keterampilan publick speaking. Saya mengajak mereka untuk memelajarai bagaimana siswa dilatih tahap demi tahapan, bukan langsung dilatih personal kemudian langsung diminta ikut lomba.

Foto: Pembukaan menyanyikan lagu Indonesia Raya
Menjadi pembicara sesungguhnya menambahkan nilai bagi orang lain. Saya berusaha memberikan yang terbaik dari diri saya untuk menjadikan orang lain lebih baik khususnya melalui dari apa yang saya sampaikan. Berbicara dilakukan dengan verbal dan non verbal.
Pernahkah Anda menyimak seorang pembicara (atau biasanya orang yang lomba berpidato) disaat berpidato suaranya selalu tinggi sampai membuat telinga seakan mau ppecah, kemudian diikuti gesture yang hampir setiap kata selalu gerakannya berubah. Asyik mungkin, tapi semenit kemudian munkin pendengar akan merasa capek dan bosan.
Pembicara yang hebat menggunakan gesture atau body language di saat menyampaikan materi. Guna berkomunikasi efektif, saya memakai lebih dari sekedar suara. Saya harus bisa menggunakan gerak atau isyarat fisik-segenap tubuh kita. Namun, gerak isyarat ini haruslah alamiah, kuat, dan spontan alias natural. Alasannya karena gerak isyarat menstimulasi dan menginspirasi orang yang berbicara sehingga membuat saya merasa rileks.

Foto: Peserta mengajukan pertanyaan
Dengan gerakan ini, saya membiarkan diri saya bekerja secara rileks karena secara fisik, mental, dan emosiaonal tubuh saya bekerja. Dampaknya adalah pada pendengar sangatlah jelas. gerakan yang alamiah dan spontan berkontribusi bagi keefektifan sang pembicara serta dampak atas pesannya.
- Penulis: admin tbin
