PKBM LC Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pendidik Nonformal
- account_circle admin tbin
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 62
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PKBM LC Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pendidik Nonformal
Zulfa. Sabtu, 03 Oktober 2026

Foto: Kepala PKBM LC Dr. Risa Elvia, S.Ag., M.Pd.
Prodi TBI Fauktas Tarbiyah Universitas Al Qolam Malang
Turen, Kabupaten Malang – PKBM L-Rose Intensive Course (LC) menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pendidik Nonformal Tahun 2026 di Resto BLJ Goku, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini bertujuan meningkatkan kompetensi, kualitas layanan, dan profesionalisme pendidik nonformal.
Bertema “Sinergi dan Optimalisasi Pendidik Nonformal dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan”, workshop ini menghadirkan Dr. (C) Masykur Izzy Baiquni, M.Pd., CH., CHT., CCH. sebagai narasumber. Pesertanya para pemilik lembaga mitra PKBM LC, yakni para gus dan ning (putra-putri kiai), para mentor PKBM LC, serta perwakilan Program Mahasiswa Mengajar Universitas Al-Qolam.

Foto: Penyerahan sertifikat oleh Kepala PKBM Dr. Risa Elvia kepda narasumber Mr. Izzy
Dalam materinya, narasumber mengajak para mentor mengevaluasi diri. “Kalau ada kekurangan dalam pembelajaran, coba dilihat dulu, apakah kekurangan itu berasal dari kita sebagai mentor, atau dari warga belajar PKBM-nya,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman bukanlah guru terbaik, melainkan pengalaman yang dievaluasi.
Sebelumnya, Kepala PKBM LC, Dr. Hj. Risa Elvia, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa workshop ini menjadi wadah bertemunya para mentor dan pemilik lembaga di bawah naungan PKBM LC sekaligus ajang silaturahmi.
Narasumber membuka materi dengan membahas growth mindset atau pola pikir bertumbuh bagi guru. Ia lalu menekankan bahwa penguatan kapasitas pendidik dilakukan lewat pola observasi, diskusi, refleksi, dan perbaikan, bukan sekadar menilai dan menyalahkan. Untuk menjaga mutu layanan, ia menganjurkan siklus plan-do-check-act.
Untuk mendorong sinergi dan inovasi, narasumber memperkenalkan kerangka SINTAS, yakni sinergi, identifikasi, nilai, transformasi berbasis bukti, asesmen, dan keberlanjutan. Ia juga memaparkan kerangka FORWARD yang mengajak pendidik berani mengambil risiko dan menyambut kesalahan. Pendidik pun diingatkan menyesuaikan pendekatan dengan peserta didik: pedagogik untuk anak-anak, andragogik untuk orang dewasa, dan heutagogik yang bertumpu pada kemandirian belajar.


Foto: Peserta Workshop
Di bagian akhir, narasumber mengajak peserta memandang belajar sebagai proses seumur hidup. Ia menyebut keangkuhan sebagai masalah utama dalam belajar, serta menganjurkan afirmasi, membaca buku, imajinasi, dan doa untuk mengatasi hambatan mental. Ia juga berpesan agar para pendidik mencintai profesinya.
Narasumber turut mengisahkan wasiat gurunya. “Mas, kalau mengajar harus terus berproses. Maka ketika mengajarkan, harus benar-benar memberikan semuanya,” tuturnya menirukan pesan sang guru. Ia mengibaratkan pendidik seperti ponsel yang terus digunakan dan lama-kelamaan baterainya habis, sehingga pendidik perlu terus mengisi ulang diri dengan belajar.

Foto: Penjelasan Materi
Sepanjang paparan, narasumber kerap melemparkan pertanyaan kepada peserta sehingga suasana berlangsung interaktif. Workshop ditutup dengan menyanyi bersama.
Penulis: Zulfa, mahasiswi semester 5 Prodi Tadris Bahasa Indonesia
- Penulis: admin tbin
