Memaknai Hari Buku
- account_circle admin tbin
- calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
- visibility 65
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Penawar untuk kebosanan adalah keingintahuan. Namun, tidak ada penawar untuk keingintahuan.”
Dorothy Parker
Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Rabu, 20 Mei 2026
Universitas Al Qolam Malang
Membaca sangatlah berguna bagi pembaca. Ditemukan dari beberapa penelitian manfaat membaca. Satu: membaca menurunkan stress. Berdasarkan riset dari Unersity of Sussex (2009) membuktikan bahwa membaca rutin selama 6 menit bisa menurunkan Tingkat stress lebih efektif (68%) dibandingkan dengan kegiatan relaksasi lain. Dua: Mencegah penuaan otak. Rush University Center melakukan studi selama 6 tahun bahwa orang yang sering membaca sejak muda berisiko Alzheimer 32% lebih rendah di usia tua. Tiga: mengasah empati. University of Toronto menemukan bahwa orang yang sering membaca buku fiksi punya kemampuan empati dan lebih memahami sudut pandang orang lain dengan lebih baik.
Senin 18 Mei 2026 saya menemani mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia dalam acara bertajuk Lentera Literasi. Bersamaan di hari sebelumnya adalah hari buku nasional. Saya berpikir, Ini tidak boleh hanya sebagai seremonial tahunan tanpa ada peningkatan yang dilakukan.

Saya ingin memaknai ini sebagai kembali merefresh semangat saya untuk belajar labih tekun lagi. Saya harus belajar lagi agar bisa terbuka terhadap ide-ide baru. Seperti ucapan Sydney Harris dari Amerika “Seorang pemenang tahu seberapa banyak dirinya harus belajar, meskipun ia dianggap pakar oleh orang lain. Seorang pecundang ingin dianggap pakar oleh orang lain sebelum dirinya sadar betapa minim pengetahuannya.”
Belajar adalah aktivitas yang tidak dibatasi usia. Belajar bahasa berarti saya belajar menyimak dengan sungguh-sungguh menjadi pendengar yang baik. Belajar berbicara menjadi seorang yang bertutur kata sopan, jujur, dan terstruktur. Belajar membaca banyak hal baik yang tersurat maupun tersirat. Dan belajar menulis ide-ide cemerlang dari ilmu-ilmu yang kita pelajari. Kemudian saya akan bersastra yang terpancar pada olah pikir, olah raga, olah rasa, dan olah jiwa.
Perihal yang harus terus saya jaga adalah menumbuhkan rasa ingin tahu dalam belajar. Saya senang berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, karena ini menular. Keingintahuan orang yang ingin bertumbuh adalah keyakinan bahwa dengan belajar mereka bertumbuh dan berubah. Saya teringat ucapan Imam Syafii “ilmu selalu bersamaku di mana aku berada. Ia tersimpan dalam hatiku dan tidak tersimpan dalam kotak.”

Kebiasaan menumbuhkan rasa ingin tahu berdampak pada munculnya ide-ide baru. Ide-ide ini kemudian saya catat dan selanjutnya bisa saya fikirkan lebih jauh. Langkah selanjutnya adalah menuliskan ide itu agar bermakna. Seorang rektor universitas dan senator pernah berkata “Belajar menulis adalah belajar berpikir. Kau tidak tahu apapun dengan jelas kecuali kau menyatakan secara tertulis.”
Saya pernah membaca bahwa manusia memiliki 100 miliar sel otak, masing-masing dihubungkan oleh ganglia dan sel saraf ke sebanyak 20 ribu sel lainnya. Oleh karena itu, total jumlah ide yang bisa saya pikirkan setara dengan daya seratus miliar dari setiap 20 ribuan. Pertanyaannya sekarang adalah “bagaimana saya menggunakan komputer super pikiran yang sangat spektakuler ini? belajar? atau membiarkannya tanpa guna?”
Catatan: ditulis sebagai pengisi Hari Buku Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional
- Penulis: admin tbin
