DPA dan Pusara Komunikasi
- account_circle admin tbin
- calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
- visibility 20
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Ada empat cara, dalam berhubungan dengan dunia. Kita dievaluasi dan digolongkan dalam empat car aini: apa yang kita lakukan, cara kita memandang, apa yang kita ucapkan, dan cara kita mengucapkannya.” Dale Carnegie.

Bq. Sabtu, 18 Juli 2026
Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam
Sebagai seorang dosen, tugas saya tidak hanya melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Namun saya juga mendampingi mahasiswa-mahasiswa saya sebagai Dosen Pendamping Akademik (DPA). Peran sebagai DPA ini membantu mahasiswa dalam menyiapkan rencana studi mereka, memberikan persetujuan KRS yang mereka ambil. Memantau dan mengevaluasi perkembangan nilai mahasiswa tiap semester, dan yang sering terjadi adalah memberikan konseling dalam membantu mereka menyelesaikan masalah.
Perilaku perkembangan yang sering ditemuai adalah masalah komunikasi. Entah komunikasi internal ataupun komunikasi eksternal. Komunikasi mereka dengan orang tua, lingkungan, sesama mahasiswa, bahkan dengan dosen yang mengajar.
Komunikasi yaitu apa yang kita ucapkan dan cara mengucapkannya adalah factor yang sangat menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal. Filsuf Aristoteles menekankan pentingnya menggunakan unsur etos (kredibilitas), patos (sentuhan emosia dan kejujuran), dan logos (logika atau argument). Seorang pembicara yang kredibel dan ahli memengaruhi penerimaan audiens atas materi yang ia sampaikan secara logis dan mendapatkan respon dari penerima pesan.
Beberapa penyebab yang ditemui selama ini adalah kurangnya pemahaman terhadap siapa yang diajak berkomunikasi?, bagaiamana materi komunikasi yang sesuai?, bagaiamana cara atau bahasa berkomunikasinya? apakah pesannya benar-benar dipahami?, apakah pesannya diterima?.
Akibat yang terjadi apabila komunikasi ini tidak bagus maka sering menimbulkan kesalahpahaman, konflik tertutup atau terbuka, malas dalam menyelesaikan akademis, pembelajaran menjadi pasif dan kurang menarik, serta yang sangat jelas bisa menyebabkan lulus kuliah lebih lama dari semestinya.
Konsultan dan penulis Kennet Cloke dan Joan Goldsmith berujar bahwa setiap konflik yang kita hadapi dalam hidup penuh dengan potensi positif dan negative. Ini bisa menjadi sumber inspirasi, pencerahan, pembelajaran, transformasi, dan pertumbuhan atau kemarahan, ketakutan, malu, perasaan terjebak, dan penolakan. Pilihannya bukan di tangan lawan, tetapi di tangan kita, serta kesediaan kita menghadapinya dan berusaha mengatasinya.
Di sini saya perlu belajar menjadi pendengar yang efektif untuk memahami. Saya harus belajar mendengarkan dengan empati, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ketika berbicara. Sesekali saya perlu mencoba mengklarifikasi segala ketidakyakinan setelah mendengarkan pembicaraan dengan saksama.
Perlu juga untuk jujur berusaha melihat hal-hal melalui sudut pandang orang lain. Mendengarkan dengan efektif mencoba memahami dengan sikap terbuka dan menerima tanpa terburu-buru mengambil asumsi. Orang yang saya ajak berbicara harus memahami bahwa saya berminat menyimak apa yang mereka bicarakan, sambil sesekali saya melontarkan pertanyaan.
Ahli komunikasi menjelaskan bahwa perlu menggunakan lingkaran umpan balik. Apa yang dikatakan bisa jadi bukan yang diterima. Mencari filter yang ada untuk diatasi. Supaya Kembali ke jalur yang benar maka katakanlah kembali poin saya atau saya melontarkan pertanyaan yang berkaitan.
Komunikasi yang baik perlu terus dilakukan. Dengan mengikuti nilai-nilai komunikasi yang baik, tidak hanya kita dapat menyampaikan pesan dengan lebih baik, tetapi pekerjaan atau kuliah kita akan diselesaikan dengan jumlah kesalahan yang lebih sedikit dan lebih tepat waktu.
Frank Crane berkata “Secara umum, rahasia sukses adalah mengetahui cara untuk mengubah pikiran seseorang. Inilah kekuatan yang membuat pengacara, pedagang, politikus, atau pendeta/pendakwah berhasil.”
Wallahu a’laam
- Penulis: admin tbin
