Budaya Meresensi dan Publick Speaking
- account_circle admin tbin
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
- visibility 77
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Pasti ada pelajaran yang bisa dipetik di sini, tapi aku tidak tahu apa itu.”
Charlie Brown
Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Jum’at 15 Mei 2026
Universitas Al Qolam Malang.
Sebagai duta budaya literasi LP Ma’arif Kabupaten Malang, terkadang saya miris ketika bicara kenyataan tentang budaya literasi. Bayangkan saja, Indonesia memiliki gedung perpustakaan nasional tertinggi di dunia, tetapi budaya makin turun sejak tahun 2015. Perpustakaan sesungguhnya bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga tempat menjalankan kehidupan. Ambil contoh di Finlandia, Autralia, dan Jepang perpustakaan adalah tempat beraktivitas sosial.

Langkah nyata yang saya lakukan di kelas saya ketika mengajar di kampus adalah membudayakan membaca buku, terserah mahasiswa mau membaca buku apa saja. Lalu Ketika di kelas mereka akan bercerita tentang isi buku yang mereka baca, mereka juga membuat resensinya, dan mereka juga menjelaskan kepada khalayak tentang pelajaran atau dampak apa yang mereka dapatkan dari buku tersebut yang berguna bagi kehidupan mereka.
Saya lalu melanjutkan dengan diskusi kecil dengan mereka. Mereka tidak lupa memberikan buku itu kepada saya untuk saya lihat dan sesekali saya juga merespon tentang isi atau penulisnya. Di sesi akhir, biasanya saya kan bertanya kepada mahasiswa itu, buku apa yang akan ia baca selanjutnya. Rata-rata mereka memilih buku yang mereka sukai dan mereka berkata senang saat menyelesaikan bacaannya. “Semua yang kita tahu dipelajari dari orang lain” John Wooden

Sudah lumayan lama ini saya lakukan dengan harapan memantik rasa ingin tahu mereka tentang ilmu-ilmu lainnya. Sya ingin mahasiswa saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam belajar, mereka terus mengembangkan diri. Saya ingin mereka memulai setiap harinya dengan semangat mempelajarai ilmu ilmu baru dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Saya sangat senang bila melihat mereka mendapatkan pengalaman positif yang berbeda setiap harinya.
Selain itu, Saya ingin mengajak mereka untuk berlatih berpikir kritis. Ada beberapa teknik yang kadang saya lakukan yakni 1) agree or disagree. Saya ingin tahu posisi mereka setuju atau tidak setuju mengenai isi bacaan tersebut berbasis logika yang mendukung. 2) fact versus opinions. Sya bertanya tentang fakta dan opini tentang topik yang mereka baca. 3) current event. Saya mengajak mereka melihat dari prespektif yang mungkin berbeda. dan 4) anti mainstream logic. Di sini kita berdiskusi mengenai hipotesis dan alasan yang bisa mereka sampaikan.
Mencintai dan menikmati belajar akan mengobati kebosanan. Mungkin tidak salah Ketika Dorothy Parker berkata “Penawar kebosanan adalah keingintahuan. Namun, tidak ada Penawar untuk keingintahuan. Mulai mengajak mereka keluar dari zona nyaman -malas berliterasi- adalah dengan mengajak mereka mempelajari sesuatu dengan cara yang menyenangkan.
Saya ingin melihat mahasiswa terus berusaha membuat kemajuan dengan potensi yang dimiliki. Seorang penulis menyampaikan bahwa Tuhan memberikan hadiah kepada manusia berupa potensi, dan wujud syukur manusia dengan mengembangkan potensi itu.
- Penulis: admin tbin
