Lomba Baca Puisi Nasional Pada Hari Ke-3 Kongres IMABSII di UNNES
- account_circle admin tbin
- calendar_month Selasa, 3 Des 2024
- visibility 34
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada hari Kamis, tanggal 02 November 2024, telah diselenggarakan Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional di Kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati Bulan Bahasa dan untuk mengapresiasi karya sastra, khususnya puisi, serta memberikan wadah bagi para pencinta puisi untuk berekspresi, berkompetisi secara sehat. Sekaligus acara ini termasuk runtutan acara Kongres IMABSII VIII.
Lomba ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, serta umum. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 70 orang. Lomba dilaksanakan dengan mekanisme babak penyisihan dimana pada babak ini dari 70 peserta tersebut diambil 7 orang, dan di babak final dalam babak final ada 7 orang yang melanjutkan perlombaan baca puisi tersebut untuk mendapatkan juara 1, juara 2, dan juara 3. Penentuan pemenang/juara tersebut ditentukan dari hasil penialaian juri.
Para peserta, dengan penuh semangat, membacakan puisi-puisi yang sarat makna. Ada yang menyuarakan isu sosial, ada pula yang mengeksplorasi keindahan alam. Melalui lomba ini, kita diingatkan kembali akan kekuatan kata-kata dalam menggerakkan hati dan pikiran. Namun, di balik antusiasme yang tinggi, masih ada ruang untuk perbaikan. Misalnya, perlu adanya diversifikasi tema agar peserta lebih tertantang untuk mengeksplorasi berbagai gaya penulisan.
Maka dari itu, lomba Baca Puisi Tingkat Nasional yang baru saja digelar di UNNES pada 2 November ini patut untuk diapresiasi sebagai upaya menghidupkan kembali semangat literasi, khususnya puisi. Namun, di balik hingar bingar kompetisi dan euforia kemenangan, ada beberapa catatan penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, tujuan lomba yang semula mulia, yakni memperingati Bulan Bahasa dan mengapresiasi karya sastra, terkadang terkikis oleh ambisi untuk meraih juara. Fokus peserta seringkali tertuju pada teknik membaca yang sempurna dan penilaian juri, sehingga esensi dari puisi itu sendiri, yakni keindahan bahasa dan kedalaman makna, menjadi terabaikan.
Lomba baca puisi memang memiliki peran penting dalam mendorong minat baca dan menulis puisi di kalangan generasi muda. Namun, kita perlu memastikan bahwa lomba tidak hanya menjadi ajang kompetisi semata, melainkan juga menjadi ruang untuk berkreasi, berkolaborasi, dan saling belajar.
Sebagai penutup, mari kita ingat pesan Chairil Anwar: “Aku ini binatang jalang dari hutan rimba, manusia merdeka.” Sebagai penyair, kita memang liar dan bebas, tetapi kita juga harus bertanggung jawab atas setiap kata yang kita ucapkan. Mari kita gunakan puisi sebagai alat untuk menyuarakan kebenaran, mengkritik ketidakadilan, dan menginspirasi orang lain.
Penulis: Alfarisi
- Penulis: admin tbin
