Menjadi Bukan Sarjana Kertas
- account_circle admin tbin
- calendar_month Senin, 20 Apr 2026
- visibility 146
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Muhammad Masykur Izzy Baiquni. Senin, 20 April 2026
“Besi berkarat karena tidak pernah dipakai, air yang menggenang kehilangan kemurniannya dan membeku dalam suhu dingin, demikian pula kelambanan melemahkan kekuatan pikiran.” Leonardo da Vinci tokoh Renaisans.

Universitas Al Qolam Malang
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi mengingatkan kepada pembelajar, bahwa ada kondisi pembelajar yang beruntung, ada yang berisiko, bahkan ada yang merugi. Al Ghazali juga mewanti wanti kita pembelajar agar tidak berniat mencari ilmu untuk mencari kemuliaan, jabatan, dan harta. Al Ghazali menyampaikan pembelajaran yang mencari ilmu semata-mata untuk mendebat, bersikap sombong dan mengejar popularitas akan mendapatkan akhir hidup yang buruk.
April 2026 ini, Saya menemani mahasiswa bimbingan saya untuk diuji oleh tim penguji tugas akhir. Mahasiswa bimbingan saya meneliti karya J.S. Khairen yang berjudul Kami (Bukan) Sarjana Kertas dengan pendekatan teori psikologi sastra dan teori Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Kajian ini menarik menurut saya. Karena isi novelnya sedang dialami oleh mungkin banyak mahasiswa yang sedang belajar di perguruan tinggi. Ini Pelajaran menarik yang bisa kita pelajari tentang seberapa pentingnya nilai-nilai ilmu dan juga ijazah.
Kutipan dari buku pertama dari serial Kami (Bukan) Sarjana Kertas “Alasan mereka masuk Kampus UDEL macama-macam. Ada yang otaknya tak mampu masuk negeri, ada yang orang tuanya tak cukup biaya masuk swasta unggul, ada pula yang karena……biar kuliah aja.”

Saya teringat betapa pentingnya memahami dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Bukan Cuma tahu karena sekedar tahu adalah bagian dari ilusi yang kadang kita temui. Belajar itupun juga bertingkat mulai dari dasar hingga puncaknya. Seperti mulai dari Tingkat dasar hingga mahasiswa.
Kita yang tinggal di Nusantara khususnya Jawa, apabila kita pelajari dengan saksama. Sesungguhnya struktur keilmuan Jawa sudah rapi, memiliki level yang berbeda-beda. Ilmu kanoman untuk level anak muda, ilmu kanuragan untuk bekal pertarungan hidup, ilmu kadonyan untuk bekal dunia, ilmu kesepuhan untuk level orang tua, dan ilmu kasampurnan untuk kesempurnaan hidup. Semua level ini harus dimulai secara bertahap dari Tingkat paling bawah, tidak bisa loncat-loncat.
Zaman dahulu, setaraf anak anak sekolah -dan tentunya kuliah- anak muda diajari ilmu kanoman. Ilmu kanoman membahas tentang budi pekerti, tata krama, tata Susila, kemasyarakatan dan pengetahuan umum. Ujian sesungguhnya mereka adalah saat mereka bermasyarakat nantinya. Pepatah Tiongkok kuno mengatakan “ Kalau kamu malas angkat buku, kelak harus kuat angkat batu.”
Menjadi sarjana yang bukan dicap sebagai sarjana kertas, perlu niat yang benar, Hasrat belajar yang tinggi, waktu yang dikorbankan, guru yang mumpuni, biaya yang direlakan, ikhtiar jiwa raga dan amaliah nyata bagi Masyarakat. Filsuf Gothe dari Jerman berkata “Jangan pernah melewatkan sehari pun tanpa memandang karya seni yang sempurna, mendengarkan musik yang merdu, dan membaca buku yang terkenal.”
Seorang mahasiswa sudah selayaknya serius membaca dan banyak menulis. Dengan menulis mahasiswa atau pembelajar akan menyimpan ide-idenya yang luar biasa, menyimpan pemikiran besarnya. Jangan sampai semangat belajar, berpikir, dan mengamalkan ilmu lemah hanya karena kemalasan. Sebagai contoh sang Homo Universalis Leonardo da Vinci tidak pernah berhenti untuk mempelajari dan menulis penemuan-penemuannya dalam buku catatannya, Picasso 178 buku, dan Ibnu Sina lebih dari 450 karya.
- Penulis: admin tbin
