Rahasia Sukses Berpidato
- account_circle admin tbin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Izzy Bq. Ahad, 05 Juli 2026
“Kepandaian berpidato berarti Tindakan, dan mata orang bodoh jauh lebih tajam daripada telinga mereka”
Shakespeare

Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam Malang
Sabtu 04 Juli 2026. Saya diminta untuk menjadi juri dalam lomba Pidato Bahasa Indonesia yang dilaksanakan oleh Porsadin Kabupaten Malang. Acara ini berpusat di Pondok Pesantren Al Rifaie 1 Gondanglegi Malang. Menjadi juri seperti ini sudah lumayan sering saya lakukan. Bahkan, tahun lalu saya menjadi juri di Tingkat Propinsi Jawa Timur yang dilaksanakan di Kota Mojokerto.
Saya menyimak setiap peserta yang “beraksi” menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam berpidato. Mulai dari style fashion, gesture, improvisasi, isi materi, strategi penyampaian, dan juga teks pidato yang mereka berikan.
Berbicara merupakan bagian dari seni yang bisa dilatih, tidak garing dan menjemukan. Sya teringat dengan orang-orang seperti Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, Winston Churchill, Adolf Hitler, J.F. Kennedy, dan Marthin Luther King yang menjadi terkenal dengan kemampuan seni berbicara mereka yang hebat. Mereka sesungguhnya berlatih dengan tekun, teratur, dan sistematis.
Berpidato haruslah dilakukan dengan sepenuh hati. Cara terbaik untuk mencapai itu dengan sangat wajar melalui latihan tekun. Di saat saya berlatih, saya akan menmukan diri saya berbicara dengan kaku. Rasa yang tulus, antusiasme dan kesungguhan yang tinggi akan membantu saya. Berlatih memenage emosi sangatlah penting, emosi yang tidak stabil cenderung membuat kesalahan dan berpidato.
Dale Carnegie mengajarkan saya beberapa prinsip kuno dalam berbicara di depan umum. Pertama: Tekankanlah kata-kata penting dan tangguhkan yang tidak penting. Saya menekankan satu atau dua suku kata dalam sebuah kata, dan menekannya dengan kuat dan mengucapkan lainnya dengan cepat. Kedua: Ubahlah nada suara. Saya membuat nada suara saya naik-turun dari tinggi sampai rendah dan kembali tinggi. Sesekali saya akan berhenti sejenak untuk menjadikannya lebih alami. Ketiga: Ubah-ubahlah kecepatan berpidato. Mengubah kecepatan lebih menyenangkan daripada datar seperti gurun Alkali di Nevada. Kalau itu terjadi maka akan sangat membosankan. Keempat: Berhentilah sejenak sebelum dan sesudah ide-ide penting. Hal ini sering dilakukan oleh Lincoln, Dia memberikan kekuatan makna ungkapan tersebut untuk memengaruhi penontonnya.

Akhirnya, dalam berpidato saya harus menghiasi dengan kalimat-kalimat yang mampu membentuk Gambaran dan Gambaran itu terbayang di depan mata saya. Jika memungkinkan, saya boleh menggunakan kalimat-kalimat yang berimbang dan ide-ide yang bertentangan.
Guna menciptakan suasana. Saya harus berpidato dengan rasa ketertarikan yang tingi. Rasa tertarik itu menular. Dengan demikian saya bisa mengajak penonton tertarik. Namun, yang tidak boleh saya lupakan dalam berpidato adalah berbidato atau berbicara hal yang harus saya pahami. Mungkin ini dianggap remeh, tetapi banyak pembicara pemula membuat kesalahan dengan mengambil ide bahasan yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
Wallahu a’laam
- Penulis: admin tbin
