Parenting Anak Bahagia Bersama Izzy Baiquni
- account_circle admin tbin
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 5
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Dalam mengajar, kita tidak dapat melihat hasil-hasilnya seketika. Hasil-hasilnya baru akan terlihat mungkin dua puluh tahun ke depan’ Jaques Barzun
Bq. Senin 13 Juli 2026
Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam
Dosen Prodi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam Malang, Muhammad Masykur Izzy Baiquni didapuk sebagai pemateri dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan menyambut hari anak nasional. Ia diminta untuk menjadi narasumber kegiatan parenting bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “KB Darul Abror” yang juga di hadiri oleh beberapa Lembaga lain di wilayah Pakisaji Malang. Senin 13 Juli 2026 saya senang karena bisa berbagi parenting positif dengan para peserta.
Parenting positif di era modern sangat dibutuhkan untuk membentuk anak memiliki kecerdasan sosial emosional sebagai pondasi mereka saat di Taman Kanak-Kanak. Kami berdiskusi dan saya menyimak problem yang kadang dihadapi oleh orang tua siswa dan juga para guru.
Terkadang, orang tua melakukan hal yang malah membuat luka batin pada anak. Saya lebih suka menyebutnya lupa atau bahkan tidak memahami.Pola pengasuhan yang harus dihindari oleh orang tua demi menjaga sikap emosional pada anak diantaranya: Pertama: orang tua tidak berkata keras dan mengancam. Orang tua menjaga stabilitas emosi dengan menonjolkan kearifan, kebijaksanaan, kematangan, dan kecermatan dalam bersikap. Anak membutuhkan usia dini masih sangat lembut dan membutuhkan kasih saying.

Foto: Wali Murid Peserta Parenting
Kedua: Orang tua meremehkan dan tidak mempercayai anak. Sikap meremehkan membuat anak tumbuh tanpa percaya diri, ia menjadi minder dan merasa sering terpojokkan. Akibat berikutnya dari sikap ini adalah anak akan berhenti mempercayai orang tua. Selain itu anak menjadi merasa tidak aman berada di dekat orang tua.
Ketiga: Orang tua berkata negatif dan membentak anak. Sikap ini menimbulkan dampak psikologi bahkan bisa jadi menjadi trauma yang mendalam. Ubahlah dengan menggunakan kalimat positif, atau kalau memang tidak memahami maka orang tua bisa menggunakan kalimat persuasive dan halus agar mudah dipahami anak.
Keempat: Menghukum bukan untuk mendidik. Ajaklah anak merenungkan sikapnya yang salah, bukan dengan hukuman membabi buta. Rabecca Eanes menjelaskan alasan mengapa orang tua harus berhenti menghukum anak dan beberapa cara untuk mendidik mereka lebih baik tanpa hukuman, 1) hukuman hanya akan menambah rasa frustasi anak-anak dan mengakibatkan kemungkinan lebih buruk terjadi, 2) anak-anak tidak bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu.
Ketika anak sedang sedih, orang tua bisa mengajak mereka untuk melakukan beberapa kegiatan seperti melakukan hal yang mereka sukai; mendengarkan musik; bermain dengan hewan peliharaan; menyusun permainan; mendengarkan donger yang dibaca orang tua; mewarnai; biacara apa yang mereka rasakan; izinkan mereka menangis dan peluklah mereka dengan kasih sayang.
- Penulis: admin tbin
